Satu Tuhan

Atau adakah Tuhan hanya Tuhan orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Tuhan bangsa-bangsa lain! Artinya, hanya ada satu Tuhan, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.
Roma 3:29-30

Beberapa kata-kata dalam ayat tersebut di atas saya ubah dengan tujuan memudah pemahaman dalam kita membacanya, tanpa mengubah arti yang sebenarnya. Untuk itu saya cantumkan juga dalam bahasa Inggrisnya.

Is God the God of Jews only? Is He not the God  of Gentiles too? Yes, of Gentiles too, since there is only one God, who will justify the circumcised by faith and the uncircumcised through that that same faith.

Roman 3:29-30 NIV

Hanya ada satu Tuhan yang akan membenarkan kita atas dasar iman kita kepadaNya. Dalam dunia ini ada banyak hal yang bisa dijadikan tuan (lord) oleh manusia. Seseorang menghormati orang yang menjadi tuannya. Lain halnya jika penghormatan itu berubah menjadi pemujaan, maka status tuan akan berubah Tuhan (God) bagi orang tersebut. Jadi, ketika seseorang mengakui sesuatu (tuannya) sebagai Tuhannya, hal itu pasti melibatkan unsur penyembahan di dalamnya. Oleh karena itu, sekali lagi, dalam dunia ini ada banyak hal yang dapat menjadi tuan bahkan menjadi Tuhan bagi masing-masing orang (bisa orang, pohon, batu, uang atau sesuatu/pribadi yang ia sebut sebagai Tuhannya). Tiap-tiap orang dimungkinkan sekali untuk memiliki Tuhan yang berlainan. Bahkan dimungkinkan bagi satu individu untuk memiliki lebih dari satu Tuhan. Hal ini nampak pada ayat Firman Tuhan di bawah ini.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dan kepada Mammon.

Matius 6:24

Apabila ia mengabdi pada Mammon maka ia akan menyebut Mammon sebagai Tuhannya dalam penyembahannyapun ia tertuju pada Mammon. Yesus (Yeshua), Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan dalam setiap pujian, penyembahan, doa, bahkan dalam waktu dalam kehidupan kita. Apabila kita mengabdi pada Yesus maka kita akan menyebut nama Yesus dan penyembahan kita tertuju pada Yesus (Yeshua), bukan pada yang lain.

Mungkin kendala yang kita alami adalah perbedaan bahasa. Alkitab yang kita pakai adalah alkitab terjemahan, jadi wajar jika ada perbedaan bahasa termasuk juga perbedaan pengucapanya. Oleh karena itu, biar perbedaan bahasa dan pelafalannya tidak menjadi hambatan bagi kita untuk memanggil nama Tuhan kita. Apakah kita mengenal Tuhan yang kita sembah? Apakah kita tidak mengenal namaNya? Nama Tuhan yang oleh Yesus dipanggilNya dengan sebutan Bapa? Pribadi yang sangat disanjung tinggi oleh Yesus dan Yesus turun ke dunia untuk menyatakan sosok Bapa itu kepada manusia agar setiap orang mengenal kepadaNya, tahu segala perbuatanNya, mengenal kasihNya (Yohanes 3:16), menaruh percaya kepadaNya, agar setiap orang yang berseru kepada (nama)Nya diselamatkan.

Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal…

Yohanes 4: 22

Apa jadinya kita jika kita tidak pernah tahu Yesus? Apa jadinya kita jika kita tidak pernah kenal nama Yesus? Apakah kita tetap akan diselamatkan? Kita tidak akan pernah tahu ke mana lagi kita bisa berseru selain pada nama Yesus. Apa jadinya kita jika kita tidak tahu nama Bapa kita?

Aku dan Bapa adalah satu.
Yohanes 10:30

Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
Matius 23:9

Saya pernah bertanya pada seseorang yang juga Kristen, siapakah nama Bapa kita? Dia tidak tahu. Namun pada akhirnya dia menjawab Allah. Memang untuk hal ini ada ayat dalam Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

… jawab mereka: “kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.”
Yohanes 8:41

Alkitab yang kita pakai adalah Alkitab terjemahan. Maksud LAI terhadap setiap pemakaian kata “Allah” adalah untuk mengacu untuk suatu sebutan yang diperuntukkan bagi Bapa, dan bukan diperuntukkan bagi suatu nama. LAI memakai kata “TUHAN” (dalam huruf kapital semua) untuk mengacu pada nama Bapa, bukan sebutan. Namun benarkah Allah hanya suatu sebutan dan bukan merupakan suatu nama sehingga kita juga bisa memanggil Allah sebagai Bapa kita? Bapa yang membenarkan kita berdasar iman? Ternyata Allah bukan hanya sekedar sebutan namun juga merupakan nama bagi Tuhan yang lain selain TUHAN (terjemahan LAI untuk nama Bapa).

Wayomer Elohim El-Moshe ehyeh wayomer Ko tomar livney Yisrael ehyeh selakhni aleikhem.
Berfirman Elohim sesembahan Moshe (Musa): “AKU ADA YANG AKU ADA” dan berfirman katakana kepada keturunan Yisrael “ AKU ADA” mengutus aku kepadamu.
Keluaran 3:14

AKU ADA YANG AKU ADA bukanlah nama. Ayat ini mempunyai pengertian Bapa Yahweh memberitakan eksistensiNya/keberadaanNya. Terhitung sudah satu tahun saya memangil Dia, Bapa. Dan saya tahu nama yang telah Dia nyatakan sendiri, yaitu Yahweh.

Tulisan ini saya tujukan bagi pemulihan nama Bapa kita. Tidak ada maksud lain. Selama ini orang Kristen seolah terpecah belah karena tidak ada satu Tuhan, yang telah menyatakan diriNya turun ke dunia melalui Yesus. Terpecah karena mengakui Tuhan yang lain sebagai BapaNya. Bukan kesalahan kita jika kita memanggil Tuhan yang kita maksud dengan nama lain. Hal ini disebabkan karena  selama ini mata kita tertutup oleh selaput yang menutup kita untuk melihat kebenaran. Kita lebih suka menghindari kontroversi dan mengikut tradisi yang sudah ada, seperti kebiasaan orang lain yang memanggil Tuhan dengan Allah.

Bagaimana dengan Anda? Saya tidak akan memaksakan apa yang saya tuliskan ini seolah-olah adalah kehendak saya pribadi. Semua tergantung pada Anda sendiri, mau menerimanya atau tidak. Tuhan memberkati.

Jangan Jadikan Sebuah Ritual!

Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripadaKu.

Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Matius 15:8-9

(Baca Matius 15:1-20 atau Markus 7:1-23)

Bagaimana kita dalam memahami ibadah yang kita lakukan itu menentukan apakah Tuhan berkenan atau tidak atas apa yang kita lakukan. Perkenanan dari Tuhan akan menentukan bagaimana Ia akan bertindak atas diri kita. Jadi kuasa yang akan Tuhan berikan berhubungan dengan sikap hati, jiwa, roh, bahkan seluruh keberadaan kita dalam memahami aktifitas ibadah kita entah itu saat kita berdoa, menyanyi, dan segala sesuatu yang kita lakukan.

Bagaimanakah kita dalam memahami ibadah kita selama ini? Apakah dalam ibadah kita kuasa Tuhan dinyatakan dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam kesehariannya?

Bila kita memahami ibadah kita dalam artian yang tersirat dalam aktifitas berikut maka sungguh kita tidak akan pernah melihat perbuatan tangan Tuhan akan dinyatakan dalam hidup kita. Yaitu sebelum ujian akhir sekolah kita memaksakan diri untuk berdoa lebih (dalam segi waktu maupun kengototan kita dalam meminta berkat Tuhan) supaya doa kita lebih manjur dan didengar Tuhan, supaya kita mendapatkan pekerjaan atau jodoh kita ngotot dalam berdoa dan minta didoakan oleh pendeta bahkan ada yang rela berpuasa, sebelum mengadakan KKR kita berdoa berpuasa dan mengerahkan jemaat untuk ikut berdoa puasa. Dengan kata lain kita telah mengartikan ibadah sebagai suatu ritual yang wajib dilakukan sebelum kita melakukan sesuatu yang kita anggap penting.

“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya bisa dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.” (Matius 6:7-8). Kata-kata itu yang Yesus ajarkan pada para muridNya saat mereka bertanya pada Yesus bagaimana harus berdoa. Itulah perbedaan Yesus dan yang dilakukan kaum Farisi, ahli taurat dan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan secara benar. Kaum Farisi, ahli taurat dan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan secara benar melakukan dan mengajarkan ibadah sebagai suatu tradisi dan ritual yang harus dipertahankan. Lihat juga persembahan yang dilakukan oleh Kain dan Habel. Tuhan menerima persembahan Habel karena ia tidak melakukan itu untuk sebuah ritual atau tradisi atau sesuatu yang wajib untuk dilakukan, tapi karena ada suatu sikap dalam hati Habel yang percaya bahwa Bapanya mengetahui apa yang dia perlukan, sebelum dia minta kepadaNya. Panjangnya kata-kata atau kengototan dalam berdoa tidak akan membawa dampak apa-apa. Hanya percaya pada Tuhan adalah Bapanya itulah yang ada dalam hatinya. Dalam hatinya tidak ada keragu-raguan bahwa Tuhan tidak akan menolongnya, yang dapat membuat ia harus melakukan ritual tertentu sebelum bertindak. Ia selalu bertindak berdasarkan iman! Tidak ada dasar lain yang menjadi dasar baginya dalam menjalani hidup.

Dari sini nampak sebuah pemahaman yang lebih penting tentang ibadah itu sendiri. Yaitu ibadah jangan dijadikan sebuah ritual sebelum Anda melakukan sesuatu. Ibadah harus dilakukan sealamiah mungkin, menjadi bagian dari diri kita dalam setiap harinya bahkan setiap waktu dalam hidup kita jangan pernah sampai terlewatkan sedetikpun. Roh Tuhan harus selalu berkuasa atas hidup kita. Setiap saat kita harus penuh akan Roh Tuhan sehingga kita selalu siap sedia akan segala sesuatu yang ada di depan kita. Apabila Roh Tuhan itu penuh atas kita maka kita tidak akan pernah takut akan hal yang akan terjadi, kita akan selalu melangkah dengan iman. Roh Tuhan dan iman kita akan membawa kuasa yang sanggup menolong kita, sehingga kita benar-benar tahu bahwa Tuhan selalu turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihiNya. Kita akan terus bertumbuh dari iman kepada iman!

Jadi masihkah kita akan mengambil sikap ritual jika Tuhan membenarkan kita karena iman kita dan bukan karena suatu perbuatan? Lakukanlah suatu perubahan mulai dari sekarang! Tuhan Yesus memberkati.

Cara Belajar yang Benar

“Tuntutlah ilmu setinggi langit!” mungkin itulah kata-kata yang sering kita dengar dalam kegiatan belajar saat kita masih duduk di bangku sekolah. Gereja pun sering mengadakan kegiatan-kegiatan yang tujuannya membekali jemaat dengan Firman Tuhan. Entah dalam bentuk seminar-seminar, konferensi-konferensi, maupun dalam bentuk kelas-kelas pengajaran. Bahkan ada gereja yang menjadikan tahun 2008 ini sebagai tahun pemuridan (Year of Discipleships).

Tidak ada yang salah dengan Visi Misi yang gereja canangkan bagi gerejanya. Misalnya Visi Gereja untuk membangun Jemaat yang Apostolik dan Profetik. Visi itu bagus dan sangat baik. Namun seringkali tanpa sadar gereja menerapkan cara yang salah dalam pelaksaanaannya. Sehingga Visi yang baik itu tidak bisa terwujud. Kegagalan itu terjadi bukan karena pemimpin kurang berdoa, materi pengajaran kurang baik, atau jemaat kurang rohani. Namun, sekali lagi karena cara yang gereja terapkan tidaklah tepat.

Selama ini yang berlangsung adalah para pemimpin rohani dalam mengajar, menyampaikan Firman Tuhan atau apapun istilahnya adalah melalui berbicara berdasar pengetahuannya dan jemaat secara tidak langsung “dipaksa” mendengar. Karena mereka akan dicap kurang rohani apabila tidak mengikuti seminar-seminar atau kelas-kelas pengajaran atau apabila tidak menerima pendapat para pemimpin rohani, sehingga dengan cara ini mereka akan dipaksa untuk mendengar. Cara yang salah ini sudah berlangsung lama dalam lingkungan kita (khususnya gereja), bahkan seolah sudah menjadi cara yang baku yang akan diterapkan pada setiap tahunnya untuk setiap kegiatan pengajaran Alkitabiah.

Hal ini juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Ayub, tatkala Ayub ditimpa derita. Dengan segala pengetahuan filosofis, sosiologis, bahkan pengetahuan theologia, mereka mencoba “memaksa” Ayub untuk menerima cara pandang mereka. Para sahabat Ayub menyampaikan sesuatu yang seolah-olah adalah KEBENARAN. Bukankah hal ini juga yang dilakukan oleh pemimpin gereja pada umumnya?

Jika Ayub terpengaruh oleh kata-kata sahabatnya dan mengikutinya, akhir hidup Ayub tidak akan berakhir dengan indah seperti yang kita baca di Ayub 42. Hal itu pula yang saat ini harus kita pahami bahwa kita jangan mengikuti pemimpin yang salah. Bertindak seolah-olah menjadi utusan Tuhan (nabi atau rasul) dan “memaksakan” pandangan pribadi mereka.

Kalau Anda mengajarkan sesuatu kepada seseorang, dia tidak akan pernah belajar. Belajar merupakan suatu proses aktif. Artinya kita tidak akan pernah memahami kebenaran apabila kita hanya duduk dan mendengar pendapat orang tentang kebenaran. Diri kita sendiri yang harus terlibat aktif dengan Roh Kudus dalam mencari kebenaran.

Matius 5:6 : Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Bisa saja untuk sekali waktu dalam proses belajar aktif, kita akan mengalami derita seperti yang dialami oleh Ayub. Derita bukan dari Tuhan, namun derita Tuhan ijinkan. Iman adalah sesuatu yang Tuhan banggakan. Tuhan bangga akan manusia yang punya iman (seperti Ayub). Tetapi dalam konsep Iblis, manusia beriman karena dia diberkati. Dan Iblis berupaya agar konsepnya terwujud, oleh karena itulah Iblis memberi derita pada manusia agar manusia tidak lagi memiliki iman yang sempurna (faithfull) pada Tuhan.

Namun jangan putus asa jika dalam kita belajar kita mengalami derita, iman dan baptisan Roh kudus yang akan membantu kita! Iman bahwa Bapa tidak akan pernah meninggalkan milik kepunyaannya! Iman bahwa rancanganNya untuk mendatangkan damai sejahtera dan bukan kecelakaan tidak akan pernah gagal!

Pada akhirnya Ayub mengalami berkat Tuhan yang luar biasa. Dan bukan hanya berkat Tuhan saja namun Ayub juga secara pribadi mengenal Tuhan. Ayub mengatakan, ”Hanya dari kata orang saja aku dengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5)

Anda ingin kehidupan rohani yang bertumbuh? Apakah Anda sungguh-sungguh menginginkannya? Bila Anda menginginkannya, terlibatlah secara aktif dengan Tuhan!

“Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”

Yakobus 1:23-25

Syarat Masuk Surga

Yohanes 3 : 13-16

Saya mempunyai sebuah toko buku rohani yang menjadi langganan saya. Saya senang dengan toko itu karena toko itu berbeda dengan toko yang lain. Di sana saya mendapat kenyamanan yang tidak saya dapatkan di toko buku lain. Saya sering menghabiskan waktu saya untuk membaca buku ataupun mendengarkan kotbah baik dari kaset maupun dari VCD di toko buku tersebut. Bahkan saya punya beberapa pengalaman berharga bersama Tuhan di tempat itu. Berikut ini salah satu pengalaman yang ingin saya bagikan agar menjadi berkat bagi kita semua.

Suatu hari, setelah beberapa lama saya tidak berkunjung ke toko buku tersebut, saya menyempatkan waktu untuk berkunjung. Pada kesempatan itu pihak toko menawarkan suatu VCD yang mereka bilang isinya bagus berisi kegiatan yang diadakan oleh sebuah gereja dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Sebelum saya membeli saya diberi kesempatan untuk menontonnya.

Pada saat saya menonton, tiba-tiba ada sekitar 5 orang anak-anak yang masih kecil-kecil (paling besar berumur 6 tahun) berlari-lari ke sana kemari bermain di area toko buku tersebut. Pada saat mata mereka tertuju pada layar televisi merekapun beramai-ramai mendatangi tempat di mana saya sedang menonton. Saya senang dengan kedatangan mereka karena saat ini saya tidak lagi menonton sendirian. Kamipun asyik menonton VCD itu bersama-sama.

Di tengah-tengah kami menonton drama yang diputar di VCD itu tidak jarang mereka bertanya kepada saya seputar drama itu. Drama itu bercerita tentang aktifitas masyarakat kita. Ada yang menjadi dokter, pedagang es, tukang koran, supir bis, supir bajaj, anak sekolah dan lain-lain. Tiba-tiba aktifitas itu terhenti karena adanya suatu kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia.

Ketiga orang yang meninggal dunia tersebut diceritakan tiba di pengadilan terakhir untuk diadili. Orang pertama, selama hidupnya senantiasa berbuat baik namun ketika namanya dicari di kitab kehidupan namanya tidak didapati jadi diputuskan dia tidak dapat masuk surga. Orang kedua, selama hidupnya rajin pergi ke gereja, rajin baca firman, berdoa dan terlibat pelayanan di gerejanya. Malaikat Tuhan mencari namanya dalam kitab kehidupan. Ketika malikat Tuhan mengatakan bahwa namanya tidak ada dalam kitab kehidupan orang kedua ini merasa kecewa sekali karena dia merasa selama hidupnya dia sudah melakukan apa yang Tuhan inginkan. Dia meminta malaikat itu untuk mencarinya sekali lagi dengan teliti. Malaikat itu mencarinya sekali lagi namun tetap nama orang tersebut tidak ada dalam kitab kehidupan. Pada titik ini, seorang anak yang kira-kira berumur 5 tahun bertanya kepada saya “lalu apa syarat masuk surga?”, anak yang lain menimpalinya “bukannya syarat masuk surga adalah berdoa, membaca alkitab dan pergi ke gereja?”

Ketika seseorang bertanya kepada kita apa yang menjadi syarat untuk masuk surga mungkin setiap kita bisa memberikan jawaban yang beraneka ragam banyaknya dengan segala argumen untuk membenarkan jawaban kita. Namun lain persoalannya jika yang bertanya adalah seorang anak kecil. Percayalah saudara anak kecil yang sedang kebingungan tidak membutuhkan jawaban dan arguentasi kita yang panjang lebar untuk mendapatkan suatu jawaban yang mereka perlukan dengan segera. Mereka membutuhkan jawaban yang sesederhana mungkin yang dapat mereka mengerti. Nah, saudara jika Anda yang ditanya oleh seorang anak (misalnya anak Anda sendiri) apa jawaban Anda? Mampukah Anda memberikan jawaban sederhana yang mereka perlukan? Atau jika kita bertanya pada diri kita sendiri tentang syarat masuk surga sudahkah kita memiliki jawaban sederhana yang dapat kita mengerti? Ataukah jawaban itu masih bersifat rumit bahkan terkadang kitapun masih menjadi bingung karenanya?

Saya menjawab, “Bukan, membaca Alkitab, berdoa, atau ke gereja bahkan terlibat pelayanan bukanlah syarat untuk masuk surga. Syarat masuk surga cuma satu yaitu PERCAYA YESUS! Tidak ada syarat lain!”

Persis setelah saya memberi jawaban, malaikat Tuhan mempersilahkan orang ketiga untuk masuk surga karena namanya tercatat dalam kitab kehidupan dan menyebut bahwa syarat untuk masuk surga adalah percaya Yesus.

Puji Tuhan karena saya dapat memberikan jawaban yang sama dan sederhana dengan pesan Tuhan lewat drama tersebut. Bayangkan jika jawaban saya berbeda dengan drama itu anak kecil tersebut tidak akan menjadi mengerti namun akan menjadi semakin bingung. Meskipun jika pada akhirnya saya memberikan argumen atas jawaban saya. Ingat mereka tidak butuh argumen kita. Mereka butuh jawaban yang sederhana yang dapat mereka mengerti.

Pada saat drama itu berakhir anak-anak kecil itupun pergi. Dalam hati saya tahu bahwa anak-anak itu pergi dengan puas karena mereka mendapat jawaban yang mereka perlukan. Mereka melangkah keluar dengan paradigma dan cara hidup yang baru. Mereka tidak lagi bingung atau takut salah dalam melangkah karena saat ini kebenaran telah ada dalam hati mereka.

Penonton atau Pemain

Di dalam suatu pertandingan terdapat dua pelaku yaitu penonton dan pemain…

Tugas penonton adalah hanya menonton, mereka mengumpat, memuji pemain di lapangan tanpa mengetahui kondisi sesungguhnya di lapangan yang sedang mereka tonton

Baca lebih lanjut »

Berserah pada Kehendak Tuhan

1 Yohanes 3:1-24;5:14,15
Jadi, saudara-saudara yang tercinta, kalau hati kita tidak menyalahkan kita,
Kita dapat menghadap Tuhan dengan keberanian (1 Yohanes 3:21).
Karena kita tahu bahwa Ia mendengar kita kalau kita memohon kepadaNya, maka kita
tahu juga bahwa Ia memberikan kita apa yang kita minta daripadaNya (1 Yohanes 5:15).

Rasul Yohanes menambahkan dua “jika” tentang berdoa atas pokok-pokok yng kita bahas kemarin. Jika hati kita tidak menyalahkan kita, dan jika kita tahu bahwa Ia mendengarkan kita. Tuhan harus pertama-tama melihat kesadaran atas kesalahan kita sebelum kita dapat menyenangi doa. Seperti anak yang bersalah melawan orangtuanya walaupun ia sangat membutuhkannya, sering kali kita menolak kuasa doa oleh karena apa yang sudah kita lakukan atau keberadaan kita yang telah membuat kita merasa tidak memiliki hak untuk berada di hadirat Tuhan.

Namun, Tuhan tidak dikalahkan, bahkan oleh kegagalan-kegagalan kita. Ia berkata, “Datanglah keadaku sebagaimana engkau ada!” Kepastian dari salib memberikan kepada kita ketabahan dan kepercayaan diri. Perhatikan betapa jauhnya Tuhan berjalan untuk mendapatkan kita berdoa. Ia menyingkirkan halangan-halangan , menciptakan kerinduan, memberi kita diriNya sendiri, menyingkapkan kehendakNya, dan kemudian memberi kita keberanian untuk memohonkan lebih banyak daripada yang kita minta.

“Mengapa sekarang ini saya sedemikian jarang berdoa, dan hanya berdoa kalau saya berada dalam kesulitan?” Pertanyaan itu menerangkan secara jelas sekali perasaan-perasaan dari banyak orang. Tidak ada sesuatu yang mengindikasikan diri kita yang lebih baik daripada doa-doa kita yang cepat dan tidak konsisten. Keengganan kita untuk berdoa merupakan perlawanan kita terhadap Tuhan. Namun, pada akhirnya hidup kita ambruk, dan kita menghadapi persoalan-persoalan yang terlalu besar bagi kita. Tuhan segera menolong kita dalam pengharapan sehingga kita akan menjadi sedemikian terpesona pada apa yang dapat Ia lakukan terhadap persoalan-persoalan itu. Kita akan mulai untuk percaya kepada Dia.

Pertanyaannya adalah: Seberapa besar yang kita inginkan untuk hidup kita? Adalah hal yang sangat tidak masuk akal bagi kita untuk membayangkan bahwa kita dapat mengembangkan suatu hidup rohani yang dinamis jika kita tidak bersedia menyisihkan waktu untuk berdoa. Berdoa adalah melayani Tuhan.

Berdoa bukanlah untuk mengalahkan keengganan Tuhan;
Berdoa adalah untuk mendapatkan kehendakNya yang paling luhur.

Tekanan Agama

Galatia 5:1-15

Kita sekarang bebas, sebab Kristus sudah membebaskan kita! Sebab itu pertahankanlah kebebasanmu, dan jangan mau diperhamba lagi. (Galatia 5:1)

Agama bisa jadi salah satu sumber tekanan destruktif yang paling mengganggu dalam hidup kita. Agama merupakan usaha manusia untuk meraih, menyenangkan, memperoleh dan menemukan Tuhan. Melalui upacara, ritual, peraturan, dan ketetapan, kita dengan setia berusaha untuk menjadi cukup baik bagi Tuhan. Tekanan agama datang dari pelatihan dan latar belakang kita.

Inilah bagaimana tekanan agama itu bekerja. Sumber-sumber kerohanian dari doa, ibadah, penyelidikan, kegiatan gerejawi, dan kebiasaan, menjadi sasaran tujuan, dan kita merasa bahwa kita harus melakukan hal-hal itu untuk menyenangkan Tuhan. Semua ini kemudian menjadi tujuan dalam diri mereka sendiri dan bukan membantu untuk menyelesaikan sasaran tujuan kita yang benar yaitu memuliakan Tuhan dan bersukacita dalam Dia. Yesus dating supaya kita dapat memperoleh hidup-hidup yang berkelimpahan tanpa syarat. Ia tidak datang untuk mengikat orang-orangdengan lebih banyak hal tentang keagamaan. Orang-orang beragama dan lembaga-lembaga keagamaan menempatkan Dia di atas salib. Orang-orang Roma adalah sama beragamanya seperti orang-orang Yahudi karena mereka menyembah allah-allah dan pemerintah mereka seperti halnya orang-orang Yahudi yang mencoba secara bersungguh-sungguh untuk memelihara warisan keagamaan mereka.

Kita dapat menjadi sama religiusnya berkenaan dengan kebiasaan, praktik, dan prosedur, dan anggapan yang berharga, sebagaiman kita menganggapnya berkenaan dengan bentuk-bentuk dari penyesuaian yang rapid an terkondisi untuk Tuhan. Akibat-akibat yang tidak dapat dihindarkan : kita melakukan hal yang benar dengan alas an yang salah. Kita harus memuaskan mekanisme tanggapan kita yang terprogram.

Yesus justru membebaskan kita dari semua ini. Apabila maksud kita adalah untuk mengenal Dia, maka kita tidak lagi harus melakukan perkara yang “dituntut,” melainkan sebaliknya kita ingin melakukan perkara-perkara yang sungguh sungguh didorong oleh kebenaran. Sekarang disiplin dari pemuridan itu menjadi suatu sukacita sebagai ganti daripada suatu kewajiban. Kita ingin melakukan apa yang bagi sebagian besar orang merupakan kewajiban. Tekanan itu hilang, dan motivasi kasih muncul!

Tidak ada batas untuk hal-hal baik yang dapat kita

lakukan apabila motivasinya adalah kasih.

Bertanya dan Tinggal Menetap

Yohanes 14:1-31; 15:7

Ke tempat Aku pergi kalian tahu jalannya (Yohanes 14:4)

Doa merupakan persahabatan kumulatif dengan Tuhan. Doa merupakan persekutuan dan percakapan. Dialah yang mengawali dialog itu. Dia menciptakan di dalam diri kita kerinduan untuk itu, tidak sekedar untuk mengatakan kepadaNya tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk menjadi berada bersamaNya. Sedemikian banyak pertanyaan yang orang kemukakan tentang berdoa, mengungkapkan suatu asumsi yang keliru-bahwa berdoa merupakan alat kita untuk bertemu Tuhan. Kerinduan untuk berdoa merupakan karunia Tuhan. Renungkan itu! Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta ini telah menciptakan kita untuk bersekutu denganNya. Yesus mengajarkan kitabahwa berdoa bukanlah suatu wahana untuk mengatur sumber-sumber dari Yang Maha Kuasa itu untuk memenuhi keinginan-keinginan kita, melainkan suatu cara di mana keinginan-keinginan dapat diarahkan ulang sesuai dengan pikiran Tuhan dan membuat saluran-saluran untuk kehendakNya. Apakah di sana disebut tentang proporsi atas waktu yang diluangkan untuk bercakap-cakap dan mendengarkan dalam doa-doa kita?

Dua persoalan terbesar dalam hidup kita terselesaikan oleh dua persyaratan yang krusial dari doa yang berkuasa yang diberikan Kristus kepada kita. Ia mengajar kita bahwa Tuhan mahatahu. Ia memiliki pengetahuan, kesadaran, dan perhatian yang tak terbatas tentang kebutuhan-kebutuhan kita. Ketika kita berdoa atas persoalan-persoalan kita, kita menggenapi kebutuhan pertama kita yang besar itu, sumber dari semua persoalan yang lebih kecil-kebutuhan kita untuk bersekutu dengan Tuhan. Yesus memberi kita dua “jika” yang besar untuk doa yang berkuasa itu. Jika kita tinggal secara menetap-itulah esensi dari doa. Apabila kita tinggal menetap, kita diberi harta kekayaan terbesar-keintiman dengan Pencipta kita.

Nama Yesus berarti kewenanganNya, kuasaNya, dan maksudNya. Kebutuhan terbesar kita yang kedua adalah menemukan apa yang Tuhan inginkan untuk kita perbyat supaya tetap berjalan bersama dengan namaNya. Tinggal menetap-doa yang terus menerus-memberikan kepada kita rencana Tuhan atas persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan yang membingungkan kita.

Dia yang telah belajar untuk berdoa telah mempelajari

rahasia terbesar dari hidup yang kudus dan bahagia.

Perkiraan Kita

tetapi sesungguhnya, penyakit kita yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Bapa.

Yesaya 53:4

Yesaya 53 menunjukkan 2 hal yang sangat berbeda antara apa yang mampu manusia pikirkan dengan sesuatu yang disebut dengan kebenaran. Pada ayat 4 menunjukkan perbedaan tersebut. Terlebih dahulu ditunjukkan terlebih dahulu apa yang menjadi kebenaran, baru disebutkan apa yang menjadi pikiran manusia.

Firman mengatakan kebenarannya adalah Yesus mati untuk menebus dosa-dosa kita (tetapi sesungguhnya, penyakit kita yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya), namun manusia mengatakan bahwa adalah Dia disalib karena kesalahanNya (padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Bapa). Dengan memakai kata “mengira” alkitab menggambarkan kondisi manusia, apa yang mampu manusia pikirkan tentang sesuatu. Manusia memang mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan. Manusia diciptakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Namun kesempurnaan itu rusak semenjak manusia pertama jatuh kedalam dosa. Hal itu membawa dampak apa yang dipikirkan manusia tidak akan pernah mencapai seperti apa yang Tuhan pikirkan. Sedalam lautan demikianlah hikmat Tuhan sehingga tak seorangpun mampu menyelaminya. Sedalam apapun manusia berpikir namun hasilnya tidak akan pernah lebih dari sekedar perkiraan belaka. Tanpa Firman manusia tidak akan tahu kebenaran.

Termasuk keselamatan yang Tuhan sediakan melalui kematian Yesus di kayu salib. keselamatan itu tidak akan pernah diterima apabila seseorang masih memakai pikirannya. Keselamatan hanya bisa diterima dengan mempercayai korban penebusan Yesus bagi dirinya. Adalah mustahil keselamatan bisa diterima apabila seseorang masih berpikir dirinya adalah seorang yang tidak berdosa dan perbutan baik mampu menyelamatkan. Hanya dengan percaya (menerimanya dengan iman) kebenaran yang Tuhan katakan melalui FirmanNya seseorang bisa beroleh selamat. Bukan dengan pikirannya atau keyakinannya sendiri.

Pada Yesaya 53 juga dikatakan pada dasarnya kita adalah sesat seperti domba. Ini berarti ketika kita berjalan menjalani hidup tanpa Firman Tuhan maka kita sedang berjalan pada suatu kehancuran. Namun ketika Firman hidup di dalam kita Firman memberikan suatu kebenaran dan tuntunan pada kebenaran.

Melalui peringatan Paskah ini Tuhan menghendaki kita untuk kita hidup di dalam Firman. Bacalah Firman Tuhan dan berdoalah setiap harinya. Semoga Anda selalu bertumbuh di dalam Kristus.

Jika Tuhan Mengetahui , Mengapa Berdoa?

Yohanes 14:1-14

Dan apa saja yang kalian minta atas namaKu, itu akan Kulakukan untuk kalian, supaya Bapa diagungkan melalui Anak. Apa saja yang kalian minta atas namaKu, akan Kulakukan (Yohanes 14:13-14)

Jika Tuhan mengetahui tidak hanya masa lalu, tetapi juga masa depan, bagaimana kita berani mengatakan kepadaNya apa yang terbaik untuk masa depan itu? ini adalah suatu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Jawaban yang kita berikan terhadapnya menentukan bagaimana kita akan berdoa dan apa yang kita akan harapkan dari doa-doa kita. Ada empat bagian pada jawaban yang diberikan kepada kita dalam Alkitab. Pertama, kita berdoa karena kita telah terdoong untuk berdoa oleh Tuhan yang yang benar itu, kepada siapa kita berdoa.

Sebagian besar dari kita percaya bahwa berdoa dimulai ketika kita melakukan kesalahan, masuk ke dalam hadirat Tuhan dengan permintaan-permintaan dan keprihatinan-keprihatinan kita. Sama sekali tidak demikian. Jauh sebelum kita berpikir untuk berdoa, Tuhan-kepada siapa kita berdoa-sudah menyiapkan kita untuk berdoa. Doa kita adalah jawaban. Ketika suatu kebutuhan datang ke dalam benak kita dan kita berdoa, itu adalah karena Tuhan mempunyai suatu jawaban untuk diberikan kepada kita mengenai keprihatinan kita itu. Jawaban itu mungkin tidak selalu “Ya”; mungkin “Tidak” atau “Nanti.” Namun, jawaban itu sudah siap ketika kita digerakkan untuk berdoa.

Kedua, kita berdoa tidak untuk mengubah, melainkan untuk menerima rencana Tuhan. Ketika kita menaikkan doa-doa kita dan mendengar Tuhan, Ia sanggup dan mau untuk mengesankan rencanaNya ke atas kita. Sering kali kita berpikir tentang doa sebagai mengubah pikiran Tuhan mengenai suatu pokok masalah. Ini bukanlah maksud dari doa.

Ketika, kita berdoa karena Tuhan telah menetapkan bahwa di sana terdapat sumber-sumber dari kuasa dan kasihNya yang tidak akan diberikan sampai kita berdoa. Ia telah memanggil kita untuk menjadi rekan sekerjaNya di dunia. Ia sering menahan berkat anugerahNya sampai kita berdoa. Ia ingin agar kita datang kepadaNya sebagai anak-anak untuk berbagi dalam hal kebutuhan-kebutuhan kita dengan Dia.

Terakhir, ketika kita berdoa kepada YAHWEH, Bapa kita, kita berada dalam persaudaraan paling dekat dengan sesama. Tuhan berusaha untuk membawa kita lebih dekat seorang kepada yang lain melalui doa. Adalah kehendakNya untuk menahan banyak hal dari apa yang kita usahakan bagi orang-orang lain sampai kita saling mendoakan seorang untuk yang lain.

Betapa membahagiakan menyadari bahwa melalui doa, kita berpartisipasi dengan Tuhan dalam apa yang Ia ingin lakukan dalam hidup kita sekarang ini!

Berdoa bukanlah untuk mengubah,

melainkan untuk menerima

rencana dan kehendak Tuhan.