Tekanan Agama

Galatia 5:1-15

Kita sekarang bebas, sebab Kristus sudah membebaskan kita! Sebab itu pertahankanlah kebebasanmu, dan jangan mau diperhamba lagi. (Galatia 5:1)

Agama bisa jadi salah satu sumber tekanan destruktif yang paling mengganggu dalam hidup kita. Agama merupakan usaha manusia untuk meraih, menyenangkan, memperoleh dan menemukan Tuhan. Melalui upacara, ritual, peraturan, dan ketetapan, kita dengan setia berusaha untuk menjadi cukup baik bagi Tuhan. Tekanan agama datang dari pelatihan dan latar belakang kita.

Inilah bagaimana tekanan agama itu bekerja. Sumber-sumber kerohanian dari doa, ibadah, penyelidikan, kegiatan gerejawi, dan kebiasaan, menjadi sasaran tujuan, dan kita merasa bahwa kita harus melakukan hal-hal itu untuk menyenangkan Tuhan. Semua ini kemudian menjadi tujuan dalam diri mereka sendiri dan bukan membantu untuk menyelesaikan sasaran tujuan kita yang benar yaitu memuliakan Tuhan dan bersukacita dalam Dia. Yesus dating supaya kita dapat memperoleh hidup-hidup yang berkelimpahan tanpa syarat. Ia tidak datang untuk mengikat orang-orangdengan lebih banyak hal tentang keagamaan. Orang-orang beragama dan lembaga-lembaga keagamaan menempatkan Dia di atas salib. Orang-orang Roma adalah sama beragamanya seperti orang-orang Yahudi karena mereka menyembah allah-allah dan pemerintah mereka seperti halnya orang-orang Yahudi yang mencoba secara bersungguh-sungguh untuk memelihara warisan keagamaan mereka.

Kita dapat menjadi sama religiusnya berkenaan dengan kebiasaan, praktik, dan prosedur, dan anggapan yang berharga, sebagaiman kita menganggapnya berkenaan dengan bentuk-bentuk dari penyesuaian yang rapid an terkondisi untuk Tuhan. Akibat-akibat yang tidak dapat dihindarkan : kita melakukan hal yang benar dengan alas an yang salah. Kita harus memuaskan mekanisme tanggapan kita yang terprogram.

Yesus justru membebaskan kita dari semua ini. Apabila maksud kita adalah untuk mengenal Dia, maka kita tidak lagi harus melakukan perkara yang “dituntut,” melainkan sebaliknya kita ingin melakukan perkara-perkara yang sungguh sungguh didorong oleh kebenaran. Sekarang disiplin dari pemuridan itu menjadi suatu sukacita sebagai ganti daripada suatu kewajiban. Kita ingin melakukan apa yang bagi sebagian besar orang merupakan kewajiban. Tekanan itu hilang, dan motivasi kasih muncul!

Tidak ada batas untuk hal-hal baik yang dapat kita

lakukan apabila motivasinya adalah kasih.

Bertanya dan Tinggal Menetap

Yohanes 14:1-31; 15:7

Ke tempat Aku pergi kalian tahu jalannya (Yohanes 14:4)

Doa merupakan persahabatan kumulatif dengan Tuhan. Doa merupakan persekutuan dan percakapan. Dialah yang mengawali dialog itu. Dia menciptakan di dalam diri kita kerinduan untuk itu, tidak sekedar untuk mengatakan kepadaNya tentang kebutuhan-kebutuhan kita, tetapi untuk menjadi berada bersamaNya. Sedemikian banyak pertanyaan yang orang kemukakan tentang berdoa, mengungkapkan suatu asumsi yang keliru-bahwa berdoa merupakan alat kita untuk bertemu Tuhan. Kerinduan untuk berdoa merupakan karunia Tuhan. Renungkan itu! Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta ini telah menciptakan kita untuk bersekutu denganNya. Yesus mengajarkan kitabahwa berdoa bukanlah suatu wahana untuk mengatur sumber-sumber dari Yang Maha Kuasa itu untuk memenuhi keinginan-keinginan kita, melainkan suatu cara di mana keinginan-keinginan dapat diarahkan ulang sesuai dengan pikiran Tuhan dan membuat saluran-saluran untuk kehendakNya. Apakah di sana disebut tentang proporsi atas waktu yang diluangkan untuk bercakap-cakap dan mendengarkan dalam doa-doa kita?

Dua persoalan terbesar dalam hidup kita terselesaikan oleh dua persyaratan yang krusial dari doa yang berkuasa yang diberikan Kristus kepada kita. Ia mengajar kita bahwa Tuhan mahatahu. Ia memiliki pengetahuan, kesadaran, dan perhatian yang tak terbatas tentang kebutuhan-kebutuhan kita. Ketika kita berdoa atas persoalan-persoalan kita, kita menggenapi kebutuhan pertama kita yang besar itu, sumber dari semua persoalan yang lebih kecil-kebutuhan kita untuk bersekutu dengan Tuhan. Yesus memberi kita dua “jika” yang besar untuk doa yang berkuasa itu. Jika kita tinggal secara menetap-itulah esensi dari doa. Apabila kita tinggal menetap, kita diberi harta kekayaan terbesar-keintiman dengan Pencipta kita.

Nama Yesus berarti kewenanganNya, kuasaNya, dan maksudNya. Kebutuhan terbesar kita yang kedua adalah menemukan apa yang Tuhan inginkan untuk kita perbyat supaya tetap berjalan bersama dengan namaNya. Tinggal menetap-doa yang terus menerus-memberikan kepada kita rencana Tuhan atas persoalan-persoalan dan kesulitan-kesulitan yang membingungkan kita.

Dia yang telah belajar untuk berdoa telah mempelajari

rahasia terbesar dari hidup yang kudus dan bahagia.

Perkiraan Kita

tetapi sesungguhnya, penyakit kita yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Bapa.

Yesaya 53:4

Yesaya 53 menunjukkan 2 hal yang sangat berbeda antara apa yang mampu manusia pikirkan dengan sesuatu yang disebut dengan kebenaran. Pada ayat 4 menunjukkan perbedaan tersebut. Terlebih dahulu ditunjukkan terlebih dahulu apa yang menjadi kebenaran, baru disebutkan apa yang menjadi pikiran manusia.

Firman mengatakan kebenarannya adalah Yesus mati untuk menebus dosa-dosa kita (tetapi sesungguhnya, penyakit kita yang ditanggungNya, dan kesengsaraan kita yang dipikulNya), namun manusia mengatakan bahwa adalah Dia disalib karena kesalahanNya (padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Bapa). Dengan memakai kata “mengira” alkitab menggambarkan kondisi manusia, apa yang mampu manusia pikirkan tentang sesuatu. Manusia memang mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan. Manusia diciptakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Namun kesempurnaan itu rusak semenjak manusia pertama jatuh kedalam dosa. Hal itu membawa dampak apa yang dipikirkan manusia tidak akan pernah mencapai seperti apa yang Tuhan pikirkan. Sedalam lautan demikianlah hikmat Tuhan sehingga tak seorangpun mampu menyelaminya. Sedalam apapun manusia berpikir namun hasilnya tidak akan pernah lebih dari sekedar perkiraan belaka. Tanpa Firman manusia tidak akan tahu kebenaran.

Termasuk keselamatan yang Tuhan sediakan melalui kematian Yesus di kayu salib. keselamatan itu tidak akan pernah diterima apabila seseorang masih memakai pikirannya. Keselamatan hanya bisa diterima dengan mempercayai korban penebusan Yesus bagi dirinya. Adalah mustahil keselamatan bisa diterima apabila seseorang masih berpikir dirinya adalah seorang yang tidak berdosa dan perbutan baik mampu menyelamatkan. Hanya dengan percaya (menerimanya dengan iman) kebenaran yang Tuhan katakan melalui FirmanNya seseorang bisa beroleh selamat. Bukan dengan pikirannya atau keyakinannya sendiri.

Pada Yesaya 53 juga dikatakan pada dasarnya kita adalah sesat seperti domba. Ini berarti ketika kita berjalan menjalani hidup tanpa Firman Tuhan maka kita sedang berjalan pada suatu kehancuran. Namun ketika Firman hidup di dalam kita Firman memberikan suatu kebenaran dan tuntunan pada kebenaran.

Melalui peringatan Paskah ini Tuhan menghendaki kita untuk kita hidup di dalam Firman. Bacalah Firman Tuhan dan berdoalah setiap harinya. Semoga Anda selalu bertumbuh di dalam Kristus.

Jika Tuhan Mengetahui , Mengapa Berdoa?

Yohanes 14:1-14

Dan apa saja yang kalian minta atas namaKu, itu akan Kulakukan untuk kalian, supaya Bapa diagungkan melalui Anak. Apa saja yang kalian minta atas namaKu, akan Kulakukan (Yohanes 14:13-14)

Jika Tuhan mengetahui tidak hanya masa lalu, tetapi juga masa depan, bagaimana kita berani mengatakan kepadaNya apa yang terbaik untuk masa depan itu? ini adalah suatu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Jawaban yang kita berikan terhadapnya menentukan bagaimana kita akan berdoa dan apa yang kita akan harapkan dari doa-doa kita. Ada empat bagian pada jawaban yang diberikan kepada kita dalam Alkitab. Pertama, kita berdoa karena kita telah terdoong untuk berdoa oleh Tuhan yang yang benar itu, kepada siapa kita berdoa.

Sebagian besar dari kita percaya bahwa berdoa dimulai ketika kita melakukan kesalahan, masuk ke dalam hadirat Tuhan dengan permintaan-permintaan dan keprihatinan-keprihatinan kita. Sama sekali tidak demikian. Jauh sebelum kita berpikir untuk berdoa, Tuhan-kepada siapa kita berdoa-sudah menyiapkan kita untuk berdoa. Doa kita adalah jawaban. Ketika suatu kebutuhan datang ke dalam benak kita dan kita berdoa, itu adalah karena Tuhan mempunyai suatu jawaban untuk diberikan kepada kita mengenai keprihatinan kita itu. Jawaban itu mungkin tidak selalu “Ya”; mungkin “Tidak” atau “Nanti.” Namun, jawaban itu sudah siap ketika kita digerakkan untuk berdoa.

Kedua, kita berdoa tidak untuk mengubah, melainkan untuk menerima rencana Tuhan. Ketika kita menaikkan doa-doa kita dan mendengar Tuhan, Ia sanggup dan mau untuk mengesankan rencanaNya ke atas kita. Sering kali kita berpikir tentang doa sebagai mengubah pikiran Tuhan mengenai suatu pokok masalah. Ini bukanlah maksud dari doa.

Ketika, kita berdoa karena Tuhan telah menetapkan bahwa di sana terdapat sumber-sumber dari kuasa dan kasihNya yang tidak akan diberikan sampai kita berdoa. Ia telah memanggil kita untuk menjadi rekan sekerjaNya di dunia. Ia sering menahan berkat anugerahNya sampai kita berdoa. Ia ingin agar kita datang kepadaNya sebagai anak-anak untuk berbagi dalam hal kebutuhan-kebutuhan kita dengan Dia.

Terakhir, ketika kita berdoa kepada YAHWEH, Bapa kita, kita berada dalam persaudaraan paling dekat dengan sesama. Tuhan berusaha untuk membawa kita lebih dekat seorang kepada yang lain melalui doa. Adalah kehendakNya untuk menahan banyak hal dari apa yang kita usahakan bagi orang-orang lain sampai kita saling mendoakan seorang untuk yang lain.

Betapa membahagiakan menyadari bahwa melalui doa, kita berpartisipasi dengan Tuhan dalam apa yang Ia ingin lakukan dalam hidup kita sekarang ini!

Berdoa bukanlah untuk mengubah,

melainkan untuk menerima

rencana dan kehendak Tuhan.

IMAN

Mari saat ini kita belajar tentang iman! Apa itu iman dan apa dampaknya saat kita beriman?

Dalam Ibrani 11:1 dikatakan Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Apa yang dimaksudkan dengan kata-kata “segala sesuatu yang tidak kita lihat”? Itulah janji Tuhan. Janji Tuhan yang sudah Tuhan sediakan untuk masing-masing pribadi dan akan Tuhan berikan saat seseorang menjadi percaya.

Iman (faith) erat kaitannya dengan kesetiaan (faithful). Dikatakan pada Ibrani 11 tadi bahwa untuk menjadi percaya pada segala sesuatu yang tidak kelihatan (janji Tuhan) dibutuhkan iman (faith) sebagai dasarnya. Sedangkan untuk sampai janji Tuhan itu bisa tergenapi diperlukan kesetiaan (faithfulness).

Faithful artinya iman (faith) yang penuh melimpah. Sehingga bisa dikatakan bahwa tidak cukup dengan Anda menjadi percaya saja, namun Anda juga harus setia (faithful). Setia yang bagaimana? Dengan tetap menjadi kristen dan tidak pernah absen ke gereja? Bukan. Dengan tetap menjadi kristen dan tidak pernah absen ke gereja tidak menjadikan Anda faithful. Setia artinya Anda berani untuk terus berpegang pada janji Tuhan dan memandang Dia yang memberikan janji itu adalah setia. Dengan adanya kesetiaan itu Anda akan berani untuk tetap percaya pada Tuhan dan akan janji-janjiNya dalam kehidupan Anda sekalipun Anda belum melihatnya. Anda telah melihat dengan hati bahwa Anda telah menerimanya sekalipun belum melihatnya.

Lalu apa dampaknya saat Anda berani untuk tetap setia pada janji-janji Tuhan (faithful)? Anda akan dibenarkan oleh Tuhan dan pada saat Tuhan membenarkan kesetiaan Anda maka janjiNya akan tergenapi dalam hidup Anda.

Roma 4:18 mengatakan sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut apa yang telah difirmankan “Demikian banyaknya nanti keturunanmu.”

Roma 4:19 :Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.

Roma 4:20 :Tetapi terhadap janji Tuhan ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Tuhan,

Roma 4:21 :dengan penuh keyakinan, bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Roma 4:22 :Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Dan pada ayat 23nya dikatakan bahwa kata-kata ini , yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk untuk Abraham saja,

Roma 4:24 : tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Tuhan memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus , Tuhan kita, dari antara orang mati ,

Roma 4:25 : yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.

Siapakah Anda? Anda adalah pasangan suami istri? apakah Anda berani memiliki iman untuk pasangan Anda? seorang anak? beranikah Anda memiliki iman untuk orang tua Anda? atau Anda seorang yang duduk di kursi pemerintahan? apakah Anda telah memiliki iman bagi bangsa ini?

Roma 10:11 : Tuhan tidak akan mempermalukan orang yang percaya padaNya.

Tuhan memberkati.

Lingkungan Kita

“Kehidupan seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungannya”, itulah pendapat yang pernah dikemukakan oleh beberapa orang. Memang benar, sedikit atau banyak lingkungan akan membentuk karakter seseorang. Alkitab juga mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.

Ada suatu cerita yang pada intinya menceritakan bahwa seekor singa yang dipimpin oleh seekor domba akan dikalahkan oleh seekor domba yang dipimpin oleh seekor singa. Hal ini bisa terjadi karena singa tersebut hidup dan bergaul sebagaimana lingkungannya sehingga meskipun ia adalah seekor singa namun ia mempunyai karakter dan jiwa seekor domba. Singa yang berkarakter domba itu akan takut jika berhadapan dengan domba yang mempunyai karakter dan jiwa seekor singa. Domba itu akan mengaum layaknya seekor singa dan membuat singa tersebut lari terbirit-birit.

Injil adalah kekuatan Tuhan. Kematian Yesus di kayu salib membawa kemenangan atas semua. Kematian Yesus bukan hanya menebus dosa-dosa, membawa keselamatan jiwa, dan kelahiran baru namun juga untuk membawa kemenangan terhadap semua aspek kehidupan. Jika Anda tidak mempercayai bahwa Injil berkuasa terhadap suatu aspek kehidupan Anda, entah karena tidak peduli atau enggan maka jangan pernah mengharapkan bahwa kuasa Tuhan bekerja pada bidang tersebut. Iman timbul karena pendengaran akan Firman. Di mana Injil ditabur di situ terjadi mujizat. Di tempat di mana Injil tidak ditabur akan terjadi pembusukan. Iman itulah yang akan mendatangkan kuasa Tuhan.

Itu berarti jika Anda mengharapkan kehidupan yang bertumbuh di dalam Kristus, dan bukannya dipengaruhi oleh lingkungan, maka Anda harus percaya bahwa Injil atau Firman Tuhan itu berkuasa atas lingkungan Anda. Namun terlebih dahulu Anda harus membangun kesadaran bahwa Firman Tuhan itu punya otoritas terhadap hidup Anda. Ingat ayat di Mazmur 1:1 bahwa orang yang mencintai Taurat Tuhan adalah seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air. Pohon tersebut akan menjadi pohon yang berakar kuat dan tidak tergoyahkan karena ia mendapatkan asupan air (Firman Tuhan) dan apa saja yang diperbuatnya pasti berhasil.

Sekarang mari kita bertanya dalam diri kita pada siapakah kita bergaul? Sudahkah kita bergaul dengan Tuhan melalui Firman-Nya? atau justru iman kita menjadi semakin lemah oleh lingkungan oleh karena kita melupakan Tuhan dalam persekutuan pribadi dan bersama? Sudah sejauh mana Firman telah membentuk roh Anda menjadi seperti roh seekor singa yang tidak takut oleh apapun? Menjadi pribadi yang mempengaruhi dan bukan dipengaruhi.

BUKAN NEGARA AGAMA

Apa mungkin di negara Indonesia ini lebih berlaku hukum alam yang mengalahkan hukum positif?
Kita lihat saja kenyataan bahwa yang mayoritas merasa dirinya kuat dan menindas yang minoritas. Menyebut yang minoritas sebagai “yang sesat” dan menyebut dirinya sendiri sebagai yang “paling benar”. Bahkan dengan kekuasaannya hendak mempengaruhi kebijakan pemerintah. Kondisi inilah yang dialami oleh negara Indonesia, sebuah negara hukum yang seharusnya melindungi hak-hak setiap warga negaranya termasuk untuk beragama dan negara demokrasi yang seharusnya menghormati sekecil apapun perbedaan yang ada.
Adalah suatu kewajiban bagi setiap pemimpin umat untuk mendidik umatnya agar cerdas secara jasmani maupun rohani. Artinya pemimpin umat harus mendidik umatnya agar menghormati hukum positif yang ada. Jangan malah mengajarkan hukum rimba/alam :”TINDAS MINORITAS!”
Injil diberitakan dengan maksud memberikan pengharapan kepada orang-orang yang membutuhkan suatu pengharapan. Dengan mendengar Injil akan tumbuh suatu kekuatan di dalam jiwa. Kekuatan untuk membangun kehidupan pribadi yang telah hancur. Kekuatan untuk membangun bahtera rumah tangga yang mungkin telah terlanjur rusak karena perselingkuhan atau karena hal yang lainnya. Bahkan kekuatan untuk membangun suatu bangsa dan meraih terobosan-terobosan yang selama ini belum terpikirkan. Harapan ini timbul karena mendengar Injil, karena Injil sesungguhnya adalah kekuatan Tuhan dan kabar gembira, dan karena hati yang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Semoga tulisan ini ikut mengambil andil dalam rangka membangun manusia Indonesia yang seutuhnya dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Mari kita bangun PERSATUAN DAN KESATUAN bangsa ini dengan tetap menghormati perbedaan yang telah ada atau yang akan ada. Bhineka Tunggal Ika! Jayalah Indonesia! Kami cinta padamu Indonesia! Tuhan memberkati.

Jawaban Itu adalah Apa yang Perlu untuk Kita Mohonkan

Sebelum mereka mohon, Aku menjawab; sebelum mereka selesai berdoa, Aku sudah mengabulkan doa mereka
(Yesaya 65:24)

Ini adalah salah satu ayat yang paling menarik dan menggairahkan dari puji-pujian di Perjanjian Lama. Ayat itu mengingatkan kita bahwa berdoa dimulai dengan Tuhan, meresap ke dalam hati kita, dan memberi kita keberanian untuk meminta apa yang Tuhan sudah siapkan untuk diberikan kepada kita lebih banyak daripada yang kita akan mohonkan. Kita perlu meluangkan banyak waktu untuk mencari apa yang Bapa inginkan dari kita untuk kita mohonkan ketika kita sedang memintanya. Keinginan untuk berdoa adalah karunia Tuhan. Ingatlah ayat ini. Berdoa bukanlah untuk meminta perhatian Tuhan, melainkan kita memfokuskan perhatian kita kepada-Nya dan pada apa yang akan Dia katakan kepada kita. Jangan membuat doa itu seperti percakapan telepon satu arah yang di dalamnya kita menggantung gagang telepon itu sebelum kita mendengarkan apa yang Ia mau katakan!

Berdoa adalah mencari Tuhan dengan segenap hati kita. Tuhan dapat memakai imajinasi kita untuk memberi kita suatu gambaran tentang masa depan-Nya bagi kita, tetapi dengan suatu persyaratan; agar kita mencari Dia dengan segenap hati kita. Banyak dari kita mencari sasaran yang sia-sia dan terbentur olehnya karena kita tidak menemui Tuhan di dalam firman-Nya. Kita semua menjadi apa yang kita bayangkan. Berdoa adalah saat untuk membiarkan Tuhan melukis gambar pikiran tentang apa jadinya kita nanti dan apa yang akan kita lakukan.

Oh hidup yang diberkati-hati yang tenang,
Ketika semua tampak hiruk pikuk,
Yang mempercayai suatu kehendak yang lebih tinggi,
dan memimpikan kehendak yang lebih tinggi itu,
bukan daripadaku, adalah yang terbaik.

Oh hidup, betapa menyenangkan, betapa dahsyat!
Hidup yang luhur, yang merindukan akan sesuatu yang lebih tinggi!
Juruselamat, penuhilah hasratku yang mendalam ini,
Dan biarkan hidup yang diberkati ini menjadi milikku.

-W.J. Matson

PERTOLONGAN KARENA KEHADIRANNYA

Seperti rusa merindukan air sungai, demikian jiwaku merindukan Engkau, ya Elohiym.
(Mazmur 42:2)
Pemazmur memberikan kepada kita suatu contoh tentang perbedaan antara doa untuk memohon doa yang sebenarnya. Pemazmur sungguh menginginkan suatu hubungan dengan tuhan lebih dari apapun yang lain di dunia ini. Banyak orang berdoa tanpa sungguh-sungguh menginginkan keintiman dengan Tuhan. Perhatikan kejujuran dari pemazmur itu. Ia berbicara kepada Tuhan tentang apa yang ia sedang rasakan-sungguh! Kejujuran semacam itu dalam berdoa membuat jalan bagi Tuhan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sesungguhnya dan bukan hanya tingkah laku yang kelihatan saja. Marilah kita menggunakan mazmur ini sebagai suatu model untuk berbicara kepada Tuhan dan biarkan Dia berbicara kepada kita.
Di samping itu, pemazmur menuntun kita ke dalam suatu tingkatan doa yang lebih mendalam. Doa yang timbul karena pengalaman akan kasih Tuhan yang tak berkesudahan yang menarik dia kembali ke dalam kesatuan yang erat dengan Bapa. Apa yang Tuhan sudah lakukan itu telah mempertinggi pengharapan kita tentang apa yang akan Ia lakukan. Puji-pujian membuat hati peka. Semakin banyak kita memuji Tuhan, semakin siaplah kita untuk menerima langkah-langkah dari strategi-Nya bagi kita. Marilah kita membuat hari ini menjadi suatu hari yang di dalamnya kita mensyukuriTuhan sepanjang hari karena kebaikan-Nya kepada kita di dalam segala persoalan dan kerumitan hidup ini.
Kita tidak perlu menjadi khawatir ketika kita telah menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Doa-doa kita harus merupakan suatu pernyataan yang jujur tentang kebutuhan kita dan ucapan syukur atas fakta bahwa Tuhan sudah mendengarkan kita dan akan bertindak demi kebaikan kita yang sebenar-benarnya. Damai yang melampaui pengertian kita akan membanjiri hati kita. Kristus akan menjaga hati kita dari apapun yang dapat menyusahkan kita. Berdoa merupakan suatu waktu untuk merenung dengan pikiran kreatif dan positif tentang Kristus dan apa yang telah Ia lakukan untuk persoalan-persoalan kita.

Siapakah Beban Anda?

Mazmur 55:2-24; Matius 11:30; Galatia 6:2
Serahkanlah kekuatiranmu kepada Tuhan, maka Ia akan menolong engkau.
(Mazmur 55:23)

Beberapa waktu yang lalu, saya memberikan sebuah kotbah kepada anak-anak tentang sebuah anggota Pramuka yang telah saya berikan tumpangan dalam perjalanannya ke kamp. Ia dibebani dengan sebuah ransel yang berat terkemas rapi pada punggungnya. Ia naik ke mobil dan berkendara dengan ranselnya yang masih terlekat pada punggungnya. Saya pikir ini tidak masuk akal dan saya berkata, “Anak muda, tidakkah Anda mau melepaskan bungkusan itu selagi Anda berkendara?” Tidak, Tuan,” sahutnya, “adalah terlalu sukar untuk memasangnya dan akan sulit untuk melepasnya, jadi saya justru berkendara dengan beban saya di punggung saya.”

Saya segera menunjukkan masalah itu dalam kotbah bahwa ini adalah seperti yang hampir kita semua lakukan, ketika berkendara dalam anugerah Tuhan dengan beban yang masih ada di punggung, kita menemukan kesulitan untuk membuang persoalan-persoalan kita dan mempercayakannya kepada Tuhan. Saya mengemukakan bahwa mengampuni berarti melupakan. Namun demikian, banyak dari kita membawa kenangan akan kegagalan-kegagalan masa lalu dari diri kita dan orang-orang lain pada punggung kita.

Sebagaimana halnya yang sering terjadi, beberapa orang dewasa mendapatkan lebih banyak dari kotbah anak-anak daripada anak-anak itu sendiri. Sepasang suami istri dating kepada saya pada saat jam rehat. “lepaskan beban saya!” perempuan itu berkata, sambil menunjuk ke suaminya. Sang istri tertawa, dan sang suami mencoba untuk melihat segi humornya. Namun, pokok persoalannya itu adalah: ia (suami) merupakan suatu beban baginya (istri), dan istri itu tidak pernah menyerahkan suaminya kepada Tuhan selagi ia berkendara dalam anugerah.

Siapakah beban Anda? Siapakah yang Anda bawa secara emosional, dalam ingatan atau dalam kesadaran? Siapa yang menyebabkan Anda sulit bereaksi karena merasa bersalah, takut, frustasi, atau marah? Orang itu milik Tuhan. Ketahuilah, Dia sedang menanggung orang itu! Bukankah sekarang adalah waktunya untuk melepaskan beban itu, menghadapi dinamika dari hubungan yang tak terselesaikan itu, mengampuni,dan melupakan?