Siapakah Beban Anda?

Mazmur 55:2-24; Matius 11:30; Galatia 6:2
Serahkanlah kekuatiranmu kepada Tuhan, maka Ia akan menolong engkau.
(Mazmur 55:23)

Beberapa waktu yang lalu, saya memberikan sebuah kotbah kepada anak-anak tentang sebuah anggota Pramuka yang telah saya berikan tumpangan dalam perjalanannya ke kamp. Ia dibebani dengan sebuah ransel yang berat terkemas rapi pada punggungnya. Ia naik ke mobil dan berkendara dengan ranselnya yang masih terlekat pada punggungnya. Saya pikir ini tidak masuk akal dan saya berkata, “Anak muda, tidakkah Anda mau melepaskan bungkusan itu selagi Anda berkendara?” Tidak, Tuan,” sahutnya, “adalah terlalu sukar untuk memasangnya dan akan sulit untuk melepasnya, jadi saya justru berkendara dengan beban saya di punggung saya.”

Saya segera menunjukkan masalah itu dalam kotbah bahwa ini adalah seperti yang hampir kita semua lakukan, ketika berkendara dalam anugerah Tuhan dengan beban yang masih ada di punggung, kita menemukan kesulitan untuk membuang persoalan-persoalan kita dan mempercayakannya kepada Tuhan. Saya mengemukakan bahwa mengampuni berarti melupakan. Namun demikian, banyak dari kita membawa kenangan akan kegagalan-kegagalan masa lalu dari diri kita dan orang-orang lain pada punggung kita.

Sebagaimana halnya yang sering terjadi, beberapa orang dewasa mendapatkan lebih banyak dari kotbah anak-anak daripada anak-anak itu sendiri. Sepasang suami istri dating kepada saya pada saat jam rehat. “lepaskan beban saya!” perempuan itu berkata, sambil menunjuk ke suaminya. Sang istri tertawa, dan sang suami mencoba untuk melihat segi humornya. Namun, pokok persoalannya itu adalah: ia (suami) merupakan suatu beban baginya (istri), dan istri itu tidak pernah menyerahkan suaminya kepada Tuhan selagi ia berkendara dalam anugerah.

Siapakah beban Anda? Siapakah yang Anda bawa secara emosional, dalam ingatan atau dalam kesadaran? Siapa yang menyebabkan Anda sulit bereaksi karena merasa bersalah, takut, frustasi, atau marah? Orang itu milik Tuhan. Ketahuilah, Dia sedang menanggung orang itu! Bukankah sekarang adalah waktunya untuk melepaskan beban itu, menghadapi dinamika dari hubungan yang tak terselesaikan itu, mengampuni,dan melupakan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s