Cara Belajar yang Benar

“Tuntutlah ilmu setinggi langit!” mungkin itulah kata-kata yang sering kita dengar dalam kegiatan belajar saat kita masih duduk di bangku sekolah. Gereja pun sering mengadakan kegiatan-kegiatan yang tujuannya membekali jemaat dengan Firman Tuhan. Entah dalam bentuk seminar-seminar, konferensi-konferensi, maupun dalam bentuk kelas-kelas pengajaran. Bahkan ada gereja yang menjadikan tahun 2008 ini sebagai tahun pemuridan (Year of Discipleships).

Tidak ada yang salah dengan Visi Misi yang gereja canangkan bagi gerejanya. Misalnya Visi Gereja untuk membangun Jemaat yang Apostolik dan Profetik. Visi itu bagus dan sangat baik. Namun seringkali tanpa sadar gereja menerapkan cara yang salah dalam pelaksaanaannya. Sehingga Visi yang baik itu tidak bisa terwujud. Kegagalan itu terjadi bukan karena pemimpin kurang berdoa, materi pengajaran kurang baik, atau jemaat kurang rohani. Namun, sekali lagi karena cara yang gereja terapkan tidaklah tepat.

Selama ini yang berlangsung adalah para pemimpin rohani dalam mengajar, menyampaikan Firman Tuhan atau apapun istilahnya adalah melalui berbicara berdasar pengetahuannya dan jemaat secara tidak langsung “dipaksa” mendengar. Karena mereka akan dicap kurang rohani apabila tidak mengikuti seminar-seminar atau kelas-kelas pengajaran atau apabila tidak menerima pendapat para pemimpin rohani, sehingga dengan cara ini mereka akan dipaksa untuk mendengar. Cara yang salah ini sudah berlangsung lama dalam lingkungan kita (khususnya gereja), bahkan seolah sudah menjadi cara yang baku yang akan diterapkan pada setiap tahunnya untuk setiap kegiatan pengajaran Alkitabiah.

Hal ini juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Ayub, tatkala Ayub ditimpa derita. Dengan segala pengetahuan filosofis, sosiologis, bahkan pengetahuan theologia, mereka mencoba “memaksa” Ayub untuk menerima cara pandang mereka. Para sahabat Ayub menyampaikan sesuatu yang seolah-olah adalah KEBENARAN. Bukankah hal ini juga yang dilakukan oleh pemimpin gereja pada umumnya?

Jika Ayub terpengaruh oleh kata-kata sahabatnya dan mengikutinya, akhir hidup Ayub tidak akan berakhir dengan indah seperti yang kita baca di Ayub 42. Hal itu pula yang saat ini harus kita pahami bahwa kita jangan mengikuti pemimpin yang salah. Bertindak seolah-olah menjadi utusan Tuhan (nabi atau rasul) dan “memaksakan” pandangan pribadi mereka.

Kalau Anda mengajarkan sesuatu kepada seseorang, dia tidak akan pernah belajar. Belajar merupakan suatu proses aktif. Artinya kita tidak akan pernah memahami kebenaran apabila kita hanya duduk dan mendengar pendapat orang tentang kebenaran. Diri kita sendiri yang harus terlibat aktif dengan Roh Kudus dalam mencari kebenaran.

Matius 5:6 : Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Bisa saja untuk sekali waktu dalam proses belajar aktif, kita akan mengalami derita seperti yang dialami oleh Ayub. Derita bukan dari Tuhan, namun derita Tuhan ijinkan. Iman adalah sesuatu yang Tuhan banggakan. Tuhan bangga akan manusia yang punya iman (seperti Ayub). Tetapi dalam konsep Iblis, manusia beriman karena dia diberkati. Dan Iblis berupaya agar konsepnya terwujud, oleh karena itulah Iblis memberi derita pada manusia agar manusia tidak lagi memiliki iman yang sempurna (faithfull) pada Tuhan.

Namun jangan putus asa jika dalam kita belajar kita mengalami derita, iman dan baptisan Roh kudus yang akan membantu kita! Iman bahwa Bapa tidak akan pernah meninggalkan milik kepunyaannya! Iman bahwa rancanganNya untuk mendatangkan damai sejahtera dan bukan kecelakaan tidak akan pernah gagal!

Pada akhirnya Ayub mengalami berkat Tuhan yang luar biasa. Dan bukan hanya berkat Tuhan saja namun Ayub juga secara pribadi mengenal Tuhan. Ayub mengatakan, ”Hanya dari kata orang saja aku dengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5)

Anda ingin kehidupan rohani yang bertumbuh? Apakah Anda sungguh-sungguh menginginkannya? Bila Anda menginginkannya, terlibatlah secara aktif dengan Tuhan!

“Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”

Yakobus 1:23-25

2 thoughts on “Cara Belajar yang Benar

  1. ya memang bener tu artikel!!thanks ya artikelnya memberkati banget deh pokoknya!salam kenal!!!he he he(walaupun gak kenal)ha ha ha…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s